AKAR PAKIS DAN AKAR KADAKA
Dua jenis akar yang berasal dari tanaman berbeda namun bisa menjadi satu kesatuan yang hebat. Akar Pakis merupakan akar yang berasal dari tanaman Cibotium barometz (Penawar Jambi) jenis ini masuk kedalam keluarga paku-pakuan yang banyak terdapat di hutan Indonesia. Akar pakis merupakan media Anggerek yang paling banyak digunakan untuk menam dengan cara di tempel, papan pakis merupakan hasil pemotongan akar pakis yang sudah tua dan padat. Biasanya satu bongkahan akar pakis dapat dibotong menjadi beberapa bagian lalu di potong lagi menjadi lempengan-lempengan persegi sesuai dengan ukuran yang sudah ditentukan sebelumnya. Sedangkan akar kadaka merupakan akar yang diambil dari tanaman Asplenium nidus (Paku Sarang Burung) dan Drynaria sparsisora (Simbar Layangan), dua jenis tanaman ini merupakan jenis tanaman yang beralasal dari keluarga paku-pakuan yang banyak terdapat di hutan indonesia dan menempel dipohon kelapa yang sudah tua atau pohon besar yang sudah tua di berbagai daerah di Indonesia. Kedua akar ini memiliki hubungan keluarga namun memiliki karakteristik yang berbeda dimana akar pakis memiliki karakteristik lebih keras dan kaku sedangkan akar kadaka tidak memiliki karakteristik yang sama walaupun satu keluarga.
Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Penawar_jambi#/media/Berkas:Cibotium_barometz_-_Botanischer_Garten_M%C3%BCnchen-Nymphenburg_-_DSC08046.JPG
Media akar kadaka merupakan media yang banya dipakai untuk menanam Anggerek selain akar pakis karena media ini dapat menyimpan air lebih lama dibandingkan arang, jenis media ini cocok digunakan untuk menanam anggerek bulan/anggerek yang membutuhkan media yang basah dan lembab.
Media akar pakis dan akar kadaka dapat disatukan dalam proses menanam anggerek tanpa pot alias ditempel sehinga akan meningkatkan nilai estetika dan membuat akar Anggerek tetap terjaga kelembapanya dan tidak kekurangan air pada saat musim kemarau/kering. Kedua jenis media ini memiliki unsur hara yang tinggi namun perlu pengolahan terlebih dahulu sebelum mengunakannya. Proses pengolahan keduanya kurang lebih caranya sama yaitu dengan cara merendam didalam air selama kurang lebih 1 minggu, apabila media terlalu kotor bisa direndam lebih lama untuk membersihkan media dari materi yang tidak dibutuhkan. Setelah media bersih maka media harus direbus sampai mendidih atau direndam dengan air panas selama kurang lebih 1 jam, lalu langkah selanjutnya diangin-aginkan sampai kering/dijemur sampai kering dan setelah kering media dapat digunakan. Sebelum digunakan bisa juga dengan direndam fungisida tapi ini tidak wajib dilakukan karena sudah melewati proses sterilisasi sebelumnya.
Media ini merupakan media dengan masa waktu pengunaan yang cukup lama, namun perlu diingat bahwa ketika media sudah tidak produktif ditandai dengan pertumbuhan anggerek yang kurang maksimal maka perlu dilakukan pergantian media yang baru. Media ini cukup baik ditempatkan diarea yang terkena hujan secara langsung dalam waktu bertahun-tahun, pengunaan media ini lebih baik dari pada menguanakan media kayu biasa yang mudah lapuk dan apabila terkena air hujan secara terus menerus akan mengakibatkan kematian pada Anggerek.
Contoh pengunaan Akar Pakis dan Akar Kadaka pada Anggerek Dendrobium chrysotoxum.
Gambar milik pribadi
Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi.
FB: @fatin orchid II dan @fatin farid
HP: 085789489103






Tidak ada komentar:
Posting Komentar